Setelah operasi usai, hendaklah saya di bawa ke ruang ICU untuk mendapat penanganan lebih. Hari pertama pasca operasi pun saya lewati. Pada siang harinya pacar saya pun datang menjenguk saya serta teman-teman kelas dan teman dekat saya. Ketika pacar saya datang, saya pun sangat senang dan merasa terhibur oleh kedatanganya. Hendaklah dia mendekat dan saya beri dia sebuah pelukan kasih tulus dari saya. Saya mengatakan padanya, "sabar ya sayang, ini mungkin cobaan berat untuk saya, tapi apakah kamu akan setia pada saya untuk bisa menghadapi cobaan ini? ". Mengapa saya bilang begitu? karena saya merasa ini akan menjadi parah dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk penyembuhan. Seketika itu dia langsung menyahut perkataan saya dan berkata "sudahlah, cobaan bukan untuk di hindari, aku akan setia menemanimu hingga cobaan berakhir". Itulah yang menjadi motivasi besar untuk saya untuk sembuh selain motivasi yang diberikan oleh keluarga yang amat sangat saya cintai. Keluarga dekat saya pun selalu menjenguk saya , terlebih kakek,nenek, ketiga om saya, dan tante beserta anaknya, mreka sudah saya anggap sebagai orang tua saya dan kakak-kakak saya sendiri.
Hari pertama , menunjukan kemajuan yang baik dimana kata dokter operasi saya berhasil. satu,dua hari saya lewati dengan penuh kesedihan dimana saya selalu ditemani oleh pacar saya, kakek,nenek, ketiga om saya, tante , adik-adik saya, serta orang tua saya yang amat saya sayangi Mereka lah yang selalu mengisi hidup saya. Kondisi kaki saya sangat mengerikan , dimana luka sobekan operasi dimana-mana hingga menimbulkan luka yang amat besar hampir 80% dari seluruh kaki saya. ini nih fotonya
Hari pertama, kedua pun saya lewati. Dokter-dokter pun selalu melihat perkembangan kaki saya, di mana kasus kaki saya ini adalah termasuk kasus yang langka. Seingat saya ada sekitar 5 atau lebih dokter yang selalu menengok saya, yang utama adalah dokter arteri saya yang menangani saya sejak awal, dokter bedah tulang yang membuat luka operasi untuk aliran darah dan oksigen yang menekan agar dapat keluar, dokter anastesi, dokter jaga , dan lain-lainya. Tak disangka keadaan makin memburuk, 1,2,3 - 6 hari setelah pasca operasi membuat keadaan kaki saya memburuk. Ditandai dengan penghitaman di ujung kuku, itu mendadakan bahwa ada tanda-tanda kematian di kaki saya. Saya hanya bisa berharap dan berdoa kaki saya dapat membaik. Di samping itu, kakek saya karena ia adalah seorang militer, dengan keberanianya ia amat memperjuangkan cucunya ini, dengan cara selalu mengikuti perkembangan saya. Ia mendatangi saat itu dokter kepala di rumah sakit tersebut untuk membantu memecahkan solusi dari sakit saya ini. Hampir setiap hari ia mengunjungiku untuk melihat perkembanganku dan konsultasi dengan dokter arteriku yang menangani ku dari awal. Kakekku adalah satu-satunya keluarga ku yang ikut dalam operasiku. Ketika itu ibu dan ayahku hanya dapat merenungkan anaknya yang sedang menderita cobaan seperti ini. Ibuku tidak berhenti-hentinya menangisiku, sedangkan ayahku selalu meberikanku makanan apapun yang aku sukai, diantaranya adalah bubur ayam di salah satu restoran china. Hampir setiap pagi aku makan bubur itu, dan rasanya sangat enak. Disamping itu, saya ingat sekali ketika itu saya membutuhkan donor darah mengingat bleeding yang saya kluarkan mungkin cukup banyak, Seingat saya total darah yang saya gunakan sekitar 5 - 6 kantong darah, Cukup banyak bukan?
Selain itu, saya ingat betul penangan perawat-perawat ICU yang sangat care dengan saya. Sehingga saya dapat menganggap mereka seperti keluarga saya sendiri karena kedekatanya dan kepedulianya mereka terhadap saya. Ada salah satu perawat yang kebetulan ia satu keyakinan dengan saya. Ia memberikan saya rosario dan doa "Karonka:" untuk menguatkan jiwa dan raga saya dalam menjalani cobaan saya. Dia selalu mendatangi kamar ICU saya sekita pukul 3 sore untuk dapat mengajak saya berdoa. Saya sangat ingat benar betapa saya sangat diperhatikan oleh banyak orang. Begitu pula, ada salah satu ibu-ibu karyawan yang tugasnya mengantar makanan kepada saya yang sangat care juga terhadap saya, saya pun senang ketika saya di rumah sakit tersebut dapat mengenal perawat-perawat yang care terhadap saya. Ada juga perawat yang masih muda . umurnya sekitar 25 tahun yang mungkin saya anggap sebagai kakak saya, karena hanya dengan dia saat itu perawat laki-laki yang bisa saya ajak bercanda. Dan hingga saat ini pun ia masih kerap main kerumah saya dan membantu ibu saya merawat luka saya.
Kembali ke cerita tentang kaki saya ya.. Sudah seminggu pasca operasi saya berlangsung, kaki saya pun keadaanya semakin memburuk. ini fotonya
Sementara saya memikirkan itu, di lain sisi adalah rasa sakit yang tidak tertahankan. Hingga dokter pun memberi campuran morfin untuk meredakan. sebelum itu, saya menggunakan obat penahan sakit yang bernama petidin. Mungkin karena sakitnya tidak tertahankan sehingga dokter memiliki alternatif lain sehingga memberi morfin yang di campur kedalam infus saya Saya hanya bisa selalu berdoa dan ibu saya pun slalu menangis melihat saya seperti ini.
Bagaimana rasanya apabila dokter yang menanganimu ketika itu hanya mau bicara di luar kamar bukan di dalam kamar ? itu pasti pertanda buruk ! Saya merasa mungkin kaki saya akan di amputasi, "Oh Tuhan cobaan dariMu sungguh berat." Hal itu hampir terjadi selama 2 minggu setelah pasca operasi.
Sebelumnya, setelah operasi pertama berlalu, sekitar 4-6 hari pasca operasi pertama, saya pun harus menjalani operasi kedua dikarenakan adanya dugaan dimana terjadi penyumbatan didalam arteri saya yang baru saja disambung. Ternyata benar, operasi kedua ini menemukan sekitar 10-14 lebih gumpalan darah yang mengental sehingga menyebabkan darah tersebut tidak dapat mengalir normal hingga ke ujung kaki. Saya lupa nama dalam bahasa dokter apa, namun seperti itu kronologisnya.
Setelah itu pun, pasca operasi kedua selesai, sekitar kurang lebih 4 hari, saya pun hendak akan di operasi lagi untuk ketiga kalinya, kasus dan dugaanya sama, yaitu terjadi penyumbatan, ternyata benar, ditemukan lah salah satu vena atau otot yang sudah mengeras, dan berwarna hitam, dapatkah anda membayangkan? sakit pasti rasanya, terlebih setelah pasca operasi setelah obat bius nya hilang, sudah dapat anda bayangkan pastinya rasa sakit yang saya rasakan.
Semakin hari berlalu, mendekati hari ke-21 , keluarga saya lebih kerap mendekati saya, dan terlebih ibu dan ayah saya yang selalu di samping saya dan selalu menangis. Saya semakin merasa waktu untuk kaki saya sudah dekat. Ternyata benar ! ibu saya pun menutup kesedihanya dengan senyuman palsu. Ia selalu mendampingi hari-hariku disaat hari yang tidak akan pernah saya lupakan tiba. saya lupa ketika itu hari apa, namun tepat sekali hari ke-21 tiba. Ternyata , kaki saya divonis untuk di amputasi. Oh Tuhanku, apa yang harus saya lakukan? Dihari itulah Mujizat dimulai ! ini saya sartakan foto kaki saya saat akan di amputasi
Ketika itu,saya dipindahkan sekitar pukul 08.00 pagi. Dan ternyata eksekusi amputasi akan dilakukan pukul 11.00 . Dapatkah anda membayangkan bagaimana perasaan saya? saya merasa Tuhan menyelamtkan saya. Dokter utama saya yang bernama Dr. Bandrio yang saat itu hingga sekarang ini menangani saya, hendak mempertahankan kaki saya. Lekaslah ia memindahkan saya untuk dirawat di Rumah Sakit lain dengan harapan kaki saya dapat di pertahankan, Inilah mujizat Tuhan. Dimana ada kebuntuan, disitu ada jalan :) .
Saya amat merasakan karunia Yesus Kristus turun diatasku. Sempat juga sebelum hari ini terjadi, saya di konsultasikan kepada dokter spesialis bedah plastik untuk melakukan "graving" atau di sayat bagian yang "mati". Namun hal itu sangat beresiko, karena yang dipertaruhkan adalah nyawa saya. Mengapa begitu? karena kimia yang digunakan dapat membuat jantung saya terganggu. Kembali ke cerita sebelumnya,
\Lekas saat itu, aku dibawa ke" Rumah Sakit Dr Oen Surakarta", untuk penanganan lebih lanjut. Aku diangkat menggunakan ambulance dan ketika aku berpamitan, seluruh suster ICU yang bertugas di" RS Kasih Ibu Surakarta" mendatangiku dan mendoakanku, ada juga yang memeluk dan mencium keningku. Aku merasakan bahwa mereka sudah menganggapku seperti saudara mereka sendiri. Mereka pun ada juga yang gingga menteskan air mata. Sungguh haru rasanya :(
Sesampainya di RS Dr Oen, lekaslah aku dibawa menuju IGD untuk registrasi sesuai prosedural.
Oh tidak ! ternyata seluruh kamar atau tempat di ICU penuh. Aku pun ditempatkan kira-kira 2 jam lebih di IGD dengan tempat tidur yang hanya pas sebadanku dan panjangnya pun lebih panjang badanku daripada tempat untuk menunggu ini. Aku pun merasa amat sangat kesakitan dan sesak pastinya.
Lantas, setelah menunggu kira-kira 2 jam, aku di bawa ke ruang isolasi ICU agar mendapat penanganan khusus dan tempat yang steril.
Selang 1 hari dari aku dipindahkan, saat itu pun dokter bedah plastik senior di rumah sakit Dr Oen pun mengunjungiku. Nah ternyata.... Ia pun memberi saran untuk mengamputasi kakiku juga. Katanya karena kaki ini sudah tidak dapat dipertahankan, mengingat lukanya yang parah dan proses pembusukan yang sedang berjalan. Ini fotonya ------>>>
Inilah kondisi kaki saya pada kondisi paling parah yang hendak di amputasi.
Pada saat itu, saya beserta keluarga saya sudah merasa putus asa dan merasa tidak ada jalan keluar.
Pihak Rumah Sakit sudah menghendaki Perwakilan dari keluarga saya untuk menandatangani surat persetujuan eksekusi amputasi tersebut. Amputasi akan dilakukan keesokan harinya pukul 07.00 pagi hari. Keluarga saya pun menangis, waktu itu hanyalah Kakek saya dan Ibu saya yang tinggal didalam. Ibu saya hanya memeluk saya. Hendak saya berkata, "ma, apakah ini akhir dari mimpiku untuk jadi tentara? apa aku nanti setelah di amputasi bisa basket lagi? jika tidak aku minta tolong, buanglah seluruh pakaian serta perlengkapan basketku agar aku dapat melepas semuanya" . Ibuku hanya terdiam dan merenung serta memelukku dengan kencang. Disamping itu Kakekku selalu menyemangatiku, "sudahlah, berserahlah saja kepada Tuhan. Tuhan adil, pasti ada jalan :) kehilangan kaki bukanlah akhir dari hidupmu vin"
Oh tidak Tuhan, aku berkata dalam hatiku, "mengapa semua ini terjadi padaku? mengapa ini terjadi saat aku beranjak dewasa? saat aku masih muda belia dan siap memandang masa depan?".
Saat itu juga tak lupa aku mengirim pesan ke GF ku , kataku padanya "sayang, apa kamu gak malu nanti apabila kamu pacaran dengan laki-laki yang hanya memilki kaki satu?". Ia menjawab, "sudahlah, itu sudah pilihan. Aku dampingi kamu".
Yaa cukuplah dengan semangat dari ibu ayah serta keluarga besarku ditambah lagi pacarku yang dapat membesarkan hatiku.
Namun.... Mujizat tidak berhenti datang kepadaku. Saat itu juga Kakekku menghubungi Dr Bandrio dan mengajak bertemu. Setelah bertemu , lekas kakekku bicara padanya dan intinya adalah "apakah tidak ada alternatif lain". Dokter ku pun menjawab. "saya punya teman pak, dia sedang meneliti stem cell , mohon bapak menghubunginya".
Saat itu juga semua keluargaku bergerilya, Tante ku langsung mendatangi tempatnya praktek untuk memesan tempat. sedangkan kedua Paman ku beserta kakekku on the way menuju tempatnya praktek.
Setelah dokter itu ditemui oleh keluargaku dan berdiskusi, dokter Endah Yulianto namanya, seakan ia memberikan sebuah harapan besar, dan ia berkata "ya pak, saya bisa! " .
Saat itu juga paman ku menghubungi ibuku dan berkata "ada mujizat". Mengucap Syukurlah aku beserta ayah ibuku kepada Tuhan Yesus. Trima Kasih Tuhan. KemuliaanMu Sungguh Besar !
Setelah terdengar kabar tersebut , aku merasa seakan ada harapan atas semua ini. Namun, jalanku yang harus aku tembuh masih panjang. Aku berharap aku kuat melalui semua ini, karena Yesus memilihku.
ini adalah ruangan dimana saya di rawat inap kan.
Hari pertama , menunjukan kemajuan yang baik dimana kata dokter operasi saya berhasil. satu,dua hari saya lewati dengan penuh kesedihan dimana saya selalu ditemani oleh pacar saya, kakek,nenek, ketiga om saya, tante , adik-adik saya, serta orang tua saya yang amat saya sayangi Mereka lah yang selalu mengisi hidup saya. Kondisi kaki saya sangat mengerikan , dimana luka sobekan operasi dimana-mana hingga menimbulkan luka yang amat besar hampir 80% dari seluruh kaki saya. ini nih fotonya
ini adalah foto kaki saya pasca operasi. bisa dilihat kan masi terjadi pembengkakan. katanya sih ada bleeding di dalam, makanya kaki saya di lukai agar darah dan oksigen yang menekan dapat keluar hingga pembengkakan reda
Selain itu, saya ingat betul penangan perawat-perawat ICU yang sangat care dengan saya. Sehingga saya dapat menganggap mereka seperti keluarga saya sendiri karena kedekatanya dan kepedulianya mereka terhadap saya. Ada salah satu perawat yang kebetulan ia satu keyakinan dengan saya. Ia memberikan saya rosario dan doa "Karonka:" untuk menguatkan jiwa dan raga saya dalam menjalani cobaan saya. Dia selalu mendatangi kamar ICU saya sekita pukul 3 sore untuk dapat mengajak saya berdoa. Saya sangat ingat benar betapa saya sangat diperhatikan oleh banyak orang. Begitu pula, ada salah satu ibu-ibu karyawan yang tugasnya mengantar makanan kepada saya yang sangat care juga terhadap saya, saya pun senang ketika saya di rumah sakit tersebut dapat mengenal perawat-perawat yang care terhadap saya. Ada juga perawat yang masih muda . umurnya sekitar 25 tahun yang mungkin saya anggap sebagai kakak saya, karena hanya dengan dia saat itu perawat laki-laki yang bisa saya ajak bercanda. Dan hingga saat ini pun ia masih kerap main kerumah saya dan membantu ibu saya merawat luka saya.
Kembali ke cerita tentang kaki saya ya.. Sudah seminggu pasca operasi saya berlangsung, kaki saya pun keadaanya semakin memburuk. ini fotonya
ini adalah proses kematian pada kaki saya. Menurut dokter, kaki saya begini karena tidak adanya pasokan oksigen dan darah yang di sebabkan oleh putusnya arteri di kaki saya.
Ketika keadaan seperti ini, saya gencar-gencarnya berdoa kepada Tuhan ditemani oleh keluarga saya, orang tua saya dan pacar saya. Biasanya orang tua saya berdoa "Novena"bersama saya tiap jam 9 malam di kamar saya, sedangkan pacar saya biasanya jam 3 sore "Karonka"dan jam 9 malam "Novena" .
Saya hanya dapat berdoa dan terus berdoa, karena itulah yang menguatkan saya untuk dapat menjalani segala cobaan atau salib hidup di dunia ini. Hidup terasa berhenti disitu. Itulah yang saya rasakan,bagaimana saya memikirkan tentang kelanjutan salib saya ini.
Hari demi hari, semakin banyak keluarga saya yang berkunjung. Namun, yang saya ingat hanyalah keluarga inti saya seperti Kakek Nenek, ketiga Om saya serta Tante dan kedua anaknya. mereka lah yang amat sering mengunjungi saya, karena saya sendiri pun sudah menganggap bahwa saya adalah anak ke-6 dari Nenek saya. hahaha. Namun tidak lupa juga, teman-teman dekat saya, dari teman SD hingga SMA pun berdatangan, tetapi yang paling kerap datang ya pacar saya pastinya haha.
Kembali ke cerita kaki , setelah beberapa hari berlalu, saya melewati kira-kira 21 hari di ICU, saya berada di tempat yang menakutkan, karena di sekeliling saya adalah orang-orang yang menderita penyakit parah seperti gagal ginjal,stroke,jantung, dan lain sebagainya.Saya pun kerap melihat ketika orang itu meninggal. Kalian bisa bayangkan pastinya apabila anda melihat seperti itu, pastinya sangat menyeramkan.
Kaki saya yang terluka ini, selalu di kunjungi dan di cek dokter pastinya. Saya ingat benar detik-detik ketika ujung kaki saya mulai kehilangan detak jantung. Ya Tuhan, sangat sakit rasanya ketika saya merasakan itu, saya tidak bisa berkata apa-apa kecuali berdoa. alat pendeteksi nadi kerap kali di tancapkan, namun tetap saja masih "0" ,
ini adalah foto monitor yang digunakan sebagai pantauan detak jantung saya dan lain sebagainya. namun apabila alat pendeteksi di kaitkan dengan kaki kanan saya, pasti hasilnya "0". Sangat Menyedihkan :(
Bagaimana rasanya apabila dokter yang menanganimu ketika itu hanya mau bicara di luar kamar bukan di dalam kamar ? itu pasti pertanda buruk ! Saya merasa mungkin kaki saya akan di amputasi, "Oh Tuhan cobaan dariMu sungguh berat." Hal itu hampir terjadi selama 2 minggu setelah pasca operasi.
Sebelumnya, setelah operasi pertama berlalu, sekitar 4-6 hari pasca operasi pertama, saya pun harus menjalani operasi kedua dikarenakan adanya dugaan dimana terjadi penyumbatan didalam arteri saya yang baru saja disambung. Ternyata benar, operasi kedua ini menemukan sekitar 10-14 lebih gumpalan darah yang mengental sehingga menyebabkan darah tersebut tidak dapat mengalir normal hingga ke ujung kaki. Saya lupa nama dalam bahasa dokter apa, namun seperti itu kronologisnya.
Setelah itu pun, pasca operasi kedua selesai, sekitar kurang lebih 4 hari, saya pun hendak akan di operasi lagi untuk ketiga kalinya, kasus dan dugaanya sama, yaitu terjadi penyumbatan, ternyata benar, ditemukan lah salah satu vena atau otot yang sudah mengeras, dan berwarna hitam, dapatkah anda membayangkan? sakit pasti rasanya, terlebih setelah pasca operasi setelah obat bius nya hilang, sudah dapat anda bayangkan pastinya rasa sakit yang saya rasakan.
Semakin hari berlalu, mendekati hari ke-21 , keluarga saya lebih kerap mendekati saya, dan terlebih ibu dan ayah saya yang selalu di samping saya dan selalu menangis. Saya semakin merasa waktu untuk kaki saya sudah dekat. Ternyata benar ! ibu saya pun menutup kesedihanya dengan senyuman palsu. Ia selalu mendampingi hari-hariku disaat hari yang tidak akan pernah saya lupakan tiba. saya lupa ketika itu hari apa, namun tepat sekali hari ke-21 tiba. Ternyata , kaki saya divonis untuk di amputasi. Oh Tuhanku, apa yang harus saya lakukan? Dihari itulah Mujizat dimulai ! ini saya sartakan foto kaki saya saat akan di amputasi
foto ini di ambil ketika tim dokter yang menangani saya menyerah dan ini detik-detik menjelang Kemuliaan Tuhan !
Ketika itu,saya dipindahkan sekitar pukul 08.00 pagi. Dan ternyata eksekusi amputasi akan dilakukan pukul 11.00 . Dapatkah anda membayangkan bagaimana perasaan saya? saya merasa Tuhan menyelamtkan saya. Dokter utama saya yang bernama Dr. Bandrio yang saat itu hingga sekarang ini menangani saya, hendak mempertahankan kaki saya. Lekaslah ia memindahkan saya untuk dirawat di Rumah Sakit lain dengan harapan kaki saya dapat di pertahankan, Inilah mujizat Tuhan. Dimana ada kebuntuan, disitu ada jalan :) .
Saya amat merasakan karunia Yesus Kristus turun diatasku. Sempat juga sebelum hari ini terjadi, saya di konsultasikan kepada dokter spesialis bedah plastik untuk melakukan "graving" atau di sayat bagian yang "mati". Namun hal itu sangat beresiko, karena yang dipertaruhkan adalah nyawa saya. Mengapa begitu? karena kimia yang digunakan dapat membuat jantung saya terganggu. Kembali ke cerita sebelumnya,
\Lekas saat itu, aku dibawa ke" Rumah Sakit Dr Oen Surakarta", untuk penanganan lebih lanjut. Aku diangkat menggunakan ambulance dan ketika aku berpamitan, seluruh suster ICU yang bertugas di" RS Kasih Ibu Surakarta" mendatangiku dan mendoakanku, ada juga yang memeluk dan mencium keningku. Aku merasakan bahwa mereka sudah menganggapku seperti saudara mereka sendiri. Mereka pun ada juga yang gingga menteskan air mata. Sungguh haru rasanya :(
Sesampainya di RS Dr Oen, lekaslah aku dibawa menuju IGD untuk registrasi sesuai prosedural.
Oh tidak ! ternyata seluruh kamar atau tempat di ICU penuh. Aku pun ditempatkan kira-kira 2 jam lebih di IGD dengan tempat tidur yang hanya pas sebadanku dan panjangnya pun lebih panjang badanku daripada tempat untuk menunggu ini. Aku pun merasa amat sangat kesakitan dan sesak pastinya.
Lantas, setelah menunggu kira-kira 2 jam, aku di bawa ke ruang isolasi ICU agar mendapat penanganan khusus dan tempat yang steril.
Selang 1 hari dari aku dipindahkan, saat itu pun dokter bedah plastik senior di rumah sakit Dr Oen pun mengunjungiku. Nah ternyata.... Ia pun memberi saran untuk mengamputasi kakiku juga. Katanya karena kaki ini sudah tidak dapat dipertahankan, mengingat lukanya yang parah dan proses pembusukan yang sedang berjalan. Ini fotonya ------>>>
left side
yang warna hitam ini adalah proses jaringan mati atau proses pembusukan.
Mengapa bisa menghitam ? karena adanya proses kematian yang ditandai dengan tidak masuknya nutrisi dan pasokan darah serta oksigen ke ujung kaki yang menyebabkan kaki kanan mati.
Dapat anda lihat kan? ini nanah , darah, dan cairan yang keluar dari kakiku
Pada saat itu, saya beserta keluarga saya sudah merasa putus asa dan merasa tidak ada jalan keluar.
Pihak Rumah Sakit sudah menghendaki Perwakilan dari keluarga saya untuk menandatangani surat persetujuan eksekusi amputasi tersebut. Amputasi akan dilakukan keesokan harinya pukul 07.00 pagi hari. Keluarga saya pun menangis, waktu itu hanyalah Kakek saya dan Ibu saya yang tinggal didalam. Ibu saya hanya memeluk saya. Hendak saya berkata, "ma, apakah ini akhir dari mimpiku untuk jadi tentara? apa aku nanti setelah di amputasi bisa basket lagi? jika tidak aku minta tolong, buanglah seluruh pakaian serta perlengkapan basketku agar aku dapat melepas semuanya" . Ibuku hanya terdiam dan merenung serta memelukku dengan kencang. Disamping itu Kakekku selalu menyemangatiku, "sudahlah, berserahlah saja kepada Tuhan. Tuhan adil, pasti ada jalan :) kehilangan kaki bukanlah akhir dari hidupmu vin"
Oh tidak Tuhan, aku berkata dalam hatiku, "mengapa semua ini terjadi padaku? mengapa ini terjadi saat aku beranjak dewasa? saat aku masih muda belia dan siap memandang masa depan?".
Saat itu juga tak lupa aku mengirim pesan ke GF ku , kataku padanya "sayang, apa kamu gak malu nanti apabila kamu pacaran dengan laki-laki yang hanya memilki kaki satu?". Ia menjawab, "sudahlah, itu sudah pilihan. Aku dampingi kamu".
Yaa cukuplah dengan semangat dari ibu ayah serta keluarga besarku ditambah lagi pacarku yang dapat membesarkan hatiku.
Namun.... Mujizat tidak berhenti datang kepadaku. Saat itu juga Kakekku menghubungi Dr Bandrio dan mengajak bertemu. Setelah bertemu , lekas kakekku bicara padanya dan intinya adalah "apakah tidak ada alternatif lain". Dokter ku pun menjawab. "saya punya teman pak, dia sedang meneliti stem cell , mohon bapak menghubunginya".
Saat itu juga semua keluargaku bergerilya, Tante ku langsung mendatangi tempatnya praktek untuk memesan tempat. sedangkan kedua Paman ku beserta kakekku on the way menuju tempatnya praktek.
Setelah dokter itu ditemui oleh keluargaku dan berdiskusi, dokter Endah Yulianto namanya, seakan ia memberikan sebuah harapan besar, dan ia berkata "ya pak, saya bisa! " .
Saat itu juga paman ku menghubungi ibuku dan berkata "ada mujizat". Mengucap Syukurlah aku beserta ayah ibuku kepada Tuhan Yesus. Trima Kasih Tuhan. KemuliaanMu Sungguh Besar !
Setelah terdengar kabar tersebut , aku merasa seakan ada harapan atas semua ini. Namun, jalanku yang harus aku tembuh masih panjang. Aku berharap aku kuat melalui semua ini, karena Yesus memilihku.

